Sunday, September 27, 2015

MINIATUR BIS : NUSANTARA IRIZAR


P E R I N G A T A N !

Miniatur dapat menyebabkan ketagihan.



samping kirinya saja


depan ke samping kiri


selfie depannya saja


belakang ke samping kanan


belakangnya saja, pakai lampu bumerang new marcopolo


cat airberush dengan kisi-kisi udara yang mantap


depan ke atap dengan jambul yang tertutup full


bersama sang mantan yang berganti nama


pose paling maksimal



nusantara black pearl
irizar - adiputro
skala 1:18
buatan Alfin Karosseri 2014
bodi tripleks
interior masih spon
lampu nyala pakai kabel
ban bisa manuver alus
livery airberush
nonbukaan
RC Rafia Controller



www.bismania.org
Squad HORE Tangerang Raya


mau tau tentang miniatur bis, join on FB:
SIS
IARS
Kombic'K
Jual Beli Bus Miniatur






Saturday, September 26, 2015

MINIATUR BIS : HARYANTO HR132 KING OF THE NIGHT


P E R I N G A T A N !

Miniatur dapat menyebabkan ketagihan.



samping kanan full


samping kanan ke depan


depannya saja


samping kiri ke belakang


belakangnya saja


samping kiri dengan lampu menyala


lampu nyala dan sein kanan juga nyala


buka-bukaan pintunya saja



Haryanto HR 132 KING OF THE NIGHT
OH 1830 Mantan Nusantara Blackpearl
JETBUS HD - Adiputro
Skala 1:20
Buatan Penta Karoseri Semarang c 2015
Bodi tripleks
Muka dan belakang resin
Livery blackpearl sitiker
Ban resin cor
Lampu menyala
Pintu terbuka
Rafia Controller



www.bismania.org
Squad HORE Tangerang Raya


grup miniatur bis on FB:
SIS
IARS
Kombic'k
Jual Beli Bus Miniatur




Friday, September 25, 2015

10 IPS SEJARAH : BAB 2 ZAMAN PRASEJARAH DI INDONESIA


1.      Zaman batu adalah suatu periode kehidupan masyarakat praksara yang umumnya menggunakan peralatan dari batu.

2.      Zaman batu tua (paleolithikum)
-          Berlangsung selama kala pleistosen sekitar 600.000 tahun
-          Perkembangan sangat lamban karena keadaan alam masih labil dengan adanya zaman glasial dan interglasial
-          Perkakas masih sangat kasar karena teknik pembuatan masih sangat sederhana, yaitu dengan cara saling membenturkan antara batu yang satu dengan batu lainnya
-          Hasil kebudayaan zaman batu tua di Indonesia dibagi menjadi dua, yaitu kebudayaan Pacitan dan kebudayaan Ngandong

3.      Kebudayaan Pacitan
-          Ditemukan oleh Von Koeningswald tahun 1935 di Sungai Baksoso, desa Punung, Pacitan, Jawa Timur
-          Alat-alat yang ditemukan berupa kapak genggam, kapak perimbas, kapak penetak, pahat genggam, alat-alat kecil (flake)

4.      Kebudayaan Ngandong
-          Ditemukan di Ngandong (Ngawi - Jawa Timur), Sangiran (Jawa Timur), dan Cabange (Sulsel)
-          Alat yang diitemaukan berupa kapak genggam, alat serpih (flake), alat-alat dari tulang dan tanduk.
-          Alat-alat dari tulang dan tanduk tersebut berupa alat pensuk (belati), ujung tombak dengan gergaji pada kedua sisinya, tanduk rusa yang diruncingkan, dan duri ikan pari yang digunakan untuk mata tombak
-          Tradisi alat tulang terus dilanjutkan hingga zaman mesolithikum terutama di gua Lawa, Sampung, Ponorogo.

5.      Kebudayaan batu madya (mesolithikum)
-          Berlangsung pada kala holosen sekitar 20.000 tahun hingga sekarang
-          Perubahan berlangsung cepat dan hasil kebudayaan sudah jauh lebih tinggi karena keadaan bumi sudah stabil
-          Muncul manusia purba jenis homo sapiens (manusia yang cerdas)
-          Alat-alat pada zaman batu tua masih digunakan dan terus dikembangkan, bahkan alat-alat dari tulang dan flakes memegang peranan penting dalam zaman batu madya
-          Telah mampu membuat gerabah, yaitu benda pecah belah yang dibuat dari tanah liat yang dibakar
-          Hasil kebudayaan batu madya dibagi menjadi tiga, yaitu kebudayaan tulang sampung, kebudayaan toala, dan kebudayaan kapak genggam sumatra

6.      Kebudayaan Tulang Sampung (Bone Culture)
-          Banyak ditemukan di arbis sous roche, yaitu gua karang tempat tinggal manusia purba
-          Diteliti oleh Van Stain Callenfels di Gua lawa, Sampung, Ponorogo tahun 1928 sampai 1931
-          Alat-alat yang ditemukan berupa batu mata panah, flake, batu penggiling, alat dari tulang, dan tanduk.
-          Ditemukan juga alat dari kerang dan fosil manusia Papua-Melanesoid yang merupakan nenek moyang bangsa Papua dan Melanesia sekarang di Bojonegoro

7.      Kebudayaan Toala (Flake Culture)
-          Diteliti oleh Fritz sarasin dan Paul Sarasin di Lumancong, Sulawesi Selatan yang dihuni oelh suku Toala
-          Alat yang ditemukan berupa alat-alat serpih (flake), batu penggiling, gerabah dan kapak sumatra (pebbel)
-          Selain itu ditemukan juga flake dari batu obsidian (batu hitam yang indah) di Bandung

8.      Kebudayaan Kapak Genggam (Pebbel Culture)
-          Ditemukan di sepanjang pesisir timur sumatra antara Langsa (Aceh) hingga Medan oleh Van Stein Callenfels
-          Penemuan kjokkenmoddinger (Bahasa Denmark)  yaitu tumpukan kulit kerang yang membatu dan tingginya hingga 7 meter
-          Selain itu ditemukan juga kapak genggam sumatra (pebbel), kapak pendek (hache courte), batu-batu penggiling, pisau batu, alu dan lesung batu
-          Pebbel culture dan kapak pendek berasal dari kebudayaan Bascon-Hoabinh di Teluk Tonkin, Indo Cina yang menyebar melalui jalur barat, yaitu Malaka dan Sumatra
-          Alat serpih (flake) berasal dari Asia daratan yang tersebar melalui jalur timur, yaitu Jepang, Taiwan, dan Filipina

9.      Zaman batu muda (neolithikum)
-          Alat-alat dari batu yang sudah dihaluskan karena sudah mengenal teknik mengasah dan mengupam
-          Dibagi menjadi dua golongan, yaitu kapak persegi dan kapak lonjong

10.  Kapak persegi
-          Dinamakan oleh Von Heine Geldern karena berbentuk memanjang dengan penampang lintangnya berbentuk persegi panjang atau trapesium
-          Banyak ditemukan di Indonesia bagian barat seperti Sumatra, Jawa, dan Bali
-          Berasal dari Asia daratan (Yunan, Cina Selatan) yang menyebar melalui jalur barat, yaitu Asia Tenggara, Malaka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku
-          Kapak persegi digunakan untuk lambang kebesaran, jimat, dan alat upacara
-          Variasi lain dari kapak persegi adalah kapak bahu, kapak tangga, kapak atap, kapak biola, dan kapak penarah.

11.  Kapak lonjong
-          Kapak lonjong adalah kapak yang penampangnya berbentuk lonjong atau bulat telur, dan bagian ujungnya lancip digunakan untuk tangaki yang ikit menyiku.
-          Kapak lonjong yang besar disebut walzenbeil dan yang kecil disebut keinbeil
-          Kapak lonjong banyak ditemukan di Idoensia bagian timur seperti Sulawesi, Sangihe Talaud, Flores, Maluku, Tanibar, Leti, dan Papua.
-          Kapak lonjong berasal dari Asia Daratan (Yunan, Cina Selatan) yang menyebar memalui jalur timur, yaitu ke Cina, Jepang, Taiwan, Filipina, Minahasa, Maluku, dan Papua.
-          Di Papua, kapak lonjong masih digunakan sehari-hari sebagai alat untuk menebang kayu, mencangkul, dan alat tukar barter. Sedangkan yang dibuat lebih indah seringkali disimpan dan digunakan untuk mas kawin.

12.  Gerabah
-          Gerabah digunakan untuk keperluan sehari-hari dalam rumah tangga sebagai wadah, untuk keperluan upacara, dan hiasan
-          Gerabah banyak ditemukan di lapisan teratas teras bukit kerang di Sumatra, pantai selatan Jawa antara Jogjakarta dengan Pacitan, Kendeng Lembu (Banyuwangi), Tangerang, dan Minanga Sipakka (Sulawesi).
-          Di Melolo (Sumba) ditemukan gerabah yang berisi tulang benulang manusia.

13.  Zaman batu besar (Megalithikum)
-          Kebudayaan megalithikum adalah kebudayaan yang utamanya menghasilkan bangunan-bangunan monumental yang terbuat dari batu-batu besar dan masif
-          Bangunan megalitik tersebut digunakan sebagai saran penghormatan dan pemujaan terhadap arwah nenek moyang
-          Banyak ditemukan di Pulau Nias, Sumatra, Jawa, Sumba, Flores, dan Toraja.
-          Kebudayaan megalithikum mulai muncul pada zaman neolithikum dan berkembang luas pada zaman logam.

14.  Hasil-hasil kebudayaan megalithikum
a.    Menhir adalah tiang atau tugu batu yang dibuat dari batu tunggal dan ditempatkan pada suatu tempat yang berfungsi sebagai sarana pemujaan pada roh nenek moyang, tempat memperingati kepala suku yang telah meninggal, dan tempat menampung kedatangan roh. Menhir banyak ditemukan di Pasemah, Sumatra Selatan.
b.    Punden berundak adalah bangunan pemujaan yang bertingkat-tingkat (berundak-undak) sebagai tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang. Punden berundak banyak ditemukan di Cisolok, Sukabumi.
c.    Dolmen adalah meja batu sebagai tempat sesaji. Ada dolmen yang berkakikan menhir di Pasemah, Sumatra Selatan dan ada dolmen yang digunakan sebagai kubur batu di Bondowoso dan Merawan Jember, Jawa Timur.
d.    Kubur peti batu adalah peti jenasah yang terpendam di dalam tanah berbentuk persegi panjang dan sisi-sisinya dibuat dari lempengan batu. Peti kubur batu banyak ditemukan di Kuningan, Jawa Barat.
e.    Sarkofagus adalah peti jenasah yang berbentuk seperti palung atau lesung dan mempunyai tutup. Sarkofagus banyak ditemukan di Bali dan Sumbawa
f.     Waruga adalah peti jenasah kecil yang berbentuk kubus dan ditutup dengan batu lain yang berbentuk atap rumah. Waruga banyak ditemukan di Minahasa, Sulawesi Utara.
g.    Arca megalithikum adalah patung dari batu yang menggambarkan manusia dan binatang. Banyak ditemukan di Sumatra Selatan dan diteliti oleh Von Heine Geldern.

15.  Pembagian penyebaran kebudayaan megalitik menurut Von Heine Geldern:
-          Megalitik tua: menghasilkan menhir, punden berundak, dan arca statis. Menyebar ke Indonesia pada zaman neolithikum (2500-1500 SM) dengan pendukung berupa kebudayaan kapak persegi yang dibawa bangsa melayu tua (Proto-Melayu).
-          Megalitik muda: menghasilkan kubur peti batu, dolmen, waruga, sarkofagus, dan arca. Menyebar ke Indonesia pada zaman perunggu (1000-100 SM) dengan pendukung berupa kebudayaan Dongsong yang dibawa bangsa melayu muda (Deutro-Melayu).

16.  Zaman logam (Zaman Perunggu)
-          Kepandaian mengolah dan melebur logam diperoleh setelah mendapat pengaruh dari kebudayaan Dongsong (Vietnam) sekitar tahun 500 SM

17.  Hasil kebudayaan zaman logam
a.    Kapak corong (kapak sepatu) adalah kapak yang bagian atasnya berbentuk corong yang gunanya untuk memasukkan tangkai kayu. Kapak corong banyak ditemukan di Sumatra Selatan, Jawa, Bali, Sulawesi Selatan, Selayar, dan Sentani Papua.
b.    Candrasa adalah kapak corong yang salah satu sisinya memanjang. Candarasa ditemukan di Jogjakarta dan Roti. Kapak corong dan candrasa digunakan sebagi tanda kebesaran dan alat upacara.
c.    Nekara adalah genderang besar yang terbuat dari perunggu, berpinggang di bagian tengahnya dan tertutup di bagian atasnya. Nekara ditemukan di Sumatra, Jawa, Bali, Roti, Selayar, dan Kepulauan Kei. Nekara terbesar ditemukan di Pura Penataran Sasih di desa Intaran daerah Pejeng, Bali.
d.    Moko adalah sejenis nekara yang kecil dan langsing yang ditemukan di Alor, NTT. Nekara dan moko digunakan sebagai alat upacara memanggil hujan, mas kawin, dan alat upacara.
e.    Bejana perunggu adalah bejana dari perunggu yang berbentuk bulat panjang seperti gitar spanyol. Bejana perunggu ditemukan di Sumatra, Jawa, dan Madura.
f.     Arca perunggu adalah patung yang terbuat dari perunggu berbentuk manusia atau binatang. Arca perunggu banyak ditemukan di Bangkinang (Riau) dan Limbangan (Bogor).
g.    Benda-benda perunggu adalah benda-benda kecil yang terbuat dari perunggu seperti perhiasan (cincin dan gelang), senjata (mata panah, ujung tombak dan belati), mata pancing, ikat pinggang, dan penutu lengan.
h.    Benda-benda besi adalah benda-benda yang terbuat dari besi dalam jumlah terbatas sebagai bekal kubur seperti mata kapak, pisau, sabit, pedang, mata tombak, gelng-gelang besi, dan sebagainya. banyak ditemukan di Wonosari (Jogjakarta) dan Besuki (Jawa Timur).
i.      Gerabah pada zaman logam mencapai tingkat yang lebih amju dengan ragam hiasan yang kaya. Gerabah banyak ditemukan di Gilimanuk (Bali), Leuwiliang (Bogor), Anyer (Banten), dan Kelumpang (Sulawesi Selatan).

18.  Tahap-tahap perkembangan masyarakat masa praaksara:
a.    Masa berburu dan mengumpulkan makanan
b.    Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut
c.    Masa bercocok tanam
d.    Masa perundagian

19.  Masa berburu dan mengumpulkan makanan
-          Terjadi sekitar 600.000 tahun dengan perkembangan kebudayaan yang lambat karena lingkungan hidup manusia masih liar dan bumi masih labil.
-          Manusia pendukungnya adalah jenis Pithecanthropus Erectus, Pithecanthropus Soloensis, dan Homo Wajakensis.
-          Kehidupan manusia masih sangat bergantung pada alam dan tersusun dalam keluarga kecil.
-          Terdapat pembagian tugas berdasarkan jenis kelamin. Laki-laki bertugas untuk melakukan perburuan dan perembuan mengumpulkan makanan (tumbuhan dan hewan kecil) serta mengurus anak.
-          Cara manusia purba mengembangkan dan mempertahankan kehidupannya:
o   Menciptkan alat dari batu dan tulang seperti kapak genggam, flake, dan kapak perimbas.
o   Hidup berkelompok antara 10-15 orang untuk mempertahankan diri dari binatang buas dan mendapatkan keturunan
o   Hidup berpindah-pindah (nomaden) di daerah dekat sumber air seperti sungai dan danau.
o   Penemuan api untuk menghangatkan badan dan memasak daging agar lebih lunak.

20.  Masa berburu dan mengumpulkan makan tingkat lanjut
-          Berlangsung pada kala pasca-Pleistosen dengan kehidupan yang masih bergantung pada alam
-          Hidup dengan berburu binatang di hutan, menangkap ikan, dan mengumpulkan makanan seperti umbi-umbian, buah, biji-bijian, dan daun.
-          Masih menggunakan alat berupa kapak genggam, flake, dan alat tulang yang sudah dikembangkan. Sedangkan gerabah mempunyai peranan yang penting sebagai wadah.
-          Mulai lebih lama mendiami suatu tempat (semi sedenter) dengan tinggal di goa-goa (arbis sous roche) yang letaknya cukup tinggi di lereng bukit untuk menghindari hewan buas.
-          Ada yang hidup di daerah pesisir dengan makanan pokok berupa kerang dan ikan laut. Di bekas tempat tinggal mereka ditemukan tumpukan kulit kerang (kjokkenmoddinger) dan peralatan mereka berupa mata kail, kapak genggam, mata tombak, dan mata panah.
-          Mulai bercocok tanam dengan cara sederhana dan dilakukan berpindah-pindah (huma) dengn cara menebang dan membakar hutan. Jika kesuburan tanah sudah berkurang mereka mencari lahan baru.
-          Kehidupan yang sudah semi meneta membuat mereka memiliki waktu untuk membuat lukisan di dinding goa yang banyak ditemukan di gua Leang-Leang (Sulawesi Selatan), lukisan goa di Pulau Muna (Sulawesi Tenggara), Pulau Seram Maluku dan goa-goa di Papua.
-          Lukisan berupa gambar telapak tangan, babi, kadal, dan perahu yang memiliki nilai estetika dan magis dengan kepercayaan nenek moyang.
-          Lukisan tersebut diperkiran sebagai simbol kepercayaan kepada roh nenek moyang (animisme), benda-benda gaib (dinamisme), hewan yang memiliki kekuatan magis (totemisme), dan kepercayaan pada upacar ritual (shamanisme).

21.  Masa bercocok tanam
-          Merupakan masa yang penting bagi peradaban dan perkembangan masyarakat karena terdapat penemuan baru dan penguasaan sumber daya alam.
-          Berbagai macam tumbuhan seperti keladi, ubi, pisang, manggis, rambutan, salak, dan kelapa mulai dipelihara dan menjinakkan hewan ternak seperti anjing, babi, ayam, dan kerbau.
-          Cara bercocok tanam dengan berhuma mulai dikembangkan sehingga muncul ladang-ladang pertanian yang sederhana.
-          Hidup menetap (sedenter) di suatu desa-desa kecil yang dekat dengan sumber air, hutan, dan wilayah perbukitan.
-          Terdapap sikap gotong-royong dalam membangun rumah, berburu, membuka lahan, dan membuat gerabah. Selain itu terdapat pembagian tugas dalam kehidupan sehari
-          Di tempat yang tandus, muncul industri lokal pembuat perkakas seperti kapak persegi, kapak lonjong, alat pemukul kulit kayu, anyaman, dan gerabah di Punung (Pacitan), kendeng Lembu (Banyuwangi), Lahat (Sumatra Utara), Wonogiri, Bogor, dan Purwakarta.
-          Terdapat sistem tukar-menukar barang (barter) berupa tukar-menukar hasih bercocok tanam, hasil kesenian (anyaman dan gerabah), ikan yang dikeringkan dan garam.
-          Perahu dan rakit memegang peranan penting sebagai saran transportasi sungai dan laut.

22.  Masa perundagian
-          Masyarakat tinggal di pegunungan, dataran rendah, dan tepi pantai dengan tata kehidupan yang teratur dan terpimpin.
-          Kemampuan baru yang terpenting pada masa ini adalah kemampuan mengolah dan melebur logam menjadi perkakas seperti pisau, sabit, dan bajak untuk kegiatan bercocok tanam.
-          Pengaturan air untuk sawah dibuat sehingga pertanian tidak sepenuhnya bergantung pada air hujan. Kemajuan tersebut membuat surplus hasil pertanian yang kemudian diperdagangkan.
-          Sistem kepercayaan terus berkembang dan mencapai puncaknya terutama kepercayaan pada roh nenek moyang dengan cara membuat bangunan monumental dari baru besar.
-          Adanya waktu senggang dalam bertani digunakan untuk mengembangkan jiwa seni seperti seni membatik, gamelan, dan wayang kulit.
-          Ilmu perbintangan (astronomi) dan iklim telah dikuasai untuk mengatur kegiatan pertanian dan perlayaran.
-          Aornell menyimpulkan bahwa perahu bercadik atau perahu bersayap adalah perahu khusu dari Indonesia. Perahu bercadik adalah perahu yang dibuat dari batang kayu yang dikerung hingga berbentuk lesung, diberi cadik atau sayap di bagian kanan dan kiri sebagai penyeimbang, dan menggunakan layar untuk menggerakkannya.
-          Dengan perahu bercadik tersebut mereka berhasil mengarungi lautan hingga India Selatan, Afrika Timur, Madagaskar, Australia Utara, Hawaii, dan Laut Cina Selatan.

23.  Bangsa Melayu
-          Bangsa Melayu adl rumpun bangsa Austronesia yang tergolong dlm sub ras Malayan Mongoloid.
-          Kedatangannya ke Nusantara terbagi dalam dua gelombang yaitu gelombang pertama 2000SM bangsa Melayu Tua (Proto-Melay) dan gelombang kedua 500SM bangsa Melayu Muda (Deutro-Melayu).
24.  Bangsa Melayu Tua (Proto-Melayu)
-          Bangsa Melayu Tua adalah suatu ras Mongoloid yang berasal dari daerah Yunan dekat Sungai Yang Tze, Cina Selatan.
-          Ciri-cirinya yaitu berbadan tinggi ramping, kulit sawo matang, rambut lurus, bentuk mulut dan hidung sedang.
-          Faktor penyebab perpindahan:
o   Desakan suku liar dari Asia Tengah
o   Peperangan antarsuku
o   Bencana alam berupa banjir besar
-          Artefak peninggalannya berupa kapak lonjong dan kapak persegi yang merupakan kebudayaan neolithikum.
-          Keturunan bangsa Proto Melayu sekarang antara lain orang Sakai di Siak, suku Nias, suku Kubu atau Anak Dalam di Jambi dan Sumatra Selatan, orang Semang di pedalaman Malaya, suku Dayak, dan suku Toraja di Sulawesi.

25.  Bangsa Melayu Muda (Deutro-Melayu)
-          Bangsa Melayu Muda adalah orang-orang Melayu Tua yang telah bercampur dengan bangsa Aria yang berasal dari Dongsong, Vietnam.
-          Memiliki ciri-ciri yang sama dengan Bangsa Proto-Melayu
-          Membawa kebudayaan yang lebih tinggi karena telah mengenal logam sebagai perkakas hidup dan alat produksi.
-          Keturunan bangsa Deutro Melayu saat ini menjadi cikal bakal bangsa Indonesia sekarang yaitu suku-suku di Aceh, Minangkabau (Sumatra barat), Jawa, Bali, Bugis, dan Makassar.


26.   Sumber: Mustopo, Habib; dkk. 2013. Sejarah Indonesia: Program Wajib untuk Kelas X SMA. Jakarta: Yudistira.